jump to navigation

Iman yang Bagaimana? 03/10/2009

Posted by chillinaris in Religion, Renungan, Motivasi, & Pengembangan Diri, Uncategorized.
Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,
trackback

coinOleh : Juswan Setyawan | 02-Okt-2009, 21:38:52 WIB di kabarindonesia.com

Sekeping mata uang logam memiliki dua sisi. Sisi ikon gambar dan sisi angka nominal. Sisi mana yang lebih penting? Tidak bisa kedua-duanya bukan? Karena yang namanya “lebih” artinya hanya satu posisi saja yang superior. Kita kerap terjebak pada pola pikir keharusan akan pilihan ganda seperti ini. Ada orang yang setiap hari rajin beribadah. Ia tidak pernah absen mengikuti kebaktian harian atau sembahyang tepat dan lengkap pada waktunya. Namun karakter dasarnya tidak pernah berubah: Ia tetap bermental minta dilayani dan bersifat egois dan serakah.

ReligionApakah dapat disimpulkan bahwa agamanya telah gagal berfungsi mengubah karakter orang ini? Tidak semudah itu jawabnya. Dalih klise yang kerap dipakai: Tidak ada manusia yang sempurna, jadi terimalah dan dimaklumi sajalah. Apapun alasannya, faktanya agamanya tidak berhasil mengubah karakter buruknya itu. Intinya, mana yang lebih penting: Apakah substansi dan ramifikasi iman [fides quae] ataukah cara berpraksis berdasarkan iman [fides qua]? Istilah umumnya, manakah yang lebih penting, apakah memiliki agama yang benar?

Flipping of A Coin
Ataukah memiliki agama yang praksis dan produktif? Rasul Yakobus tidak memecahkan dilemma ini. Ia hanya mengatakan iman tanpa perbuatan adalah kosong; bahkan mati. Ia menuntut ditunjukkan iman tanpa perbuatan dan ia sebaliknya akan menunjukkan perbuatan dari imannya. Agama, iman, kepercayaan dan nilai, kerap merupakan istilah-istilah atau konsep yang serba kabur. Kerap rancu dan beragam bagi bagi masing-masing orang. Jarang orang memiliki konsep yang jelas, tepat, benar dan seragam. Bahkan kerap kali konsep itu serba berbaur dan campur aduk. MunafikSetiap agama mengajarkan [tidak termasuk meneladankan] nilai-nilai keutamaan moral. Sayangnya tidak ada satupun umat beragama yang mampu mempraktekkan semua nilai tersebut dalam kehidupan nyatanya. Maka tidak heran banyak orang yang saleh, taat beribadah, rajin beramal, tak alpa berziarah, ramah, santun dan rendah hati namun sekaligus juga… entah korup, entah suka berselingkuh, munafik ataupun tidak toleran terhadap keanekaragaman iman orang lain. Mengapa bisa begitu? Salah satu sebab pastinya ialah keterbatasan kapasitas manusia untuk mengadopsi dan menghayati nilai-nilai moral dan keagamaan yang diajarkan kepadanya lewat agama dan warisan budayanya. Justru karena itu manusia tidak boleh dinilai berdasarkan apa agamanya. Atau diharuskan untuk menganut suatu agama tertentu secara paksa [baik paksaan halus apalagi paksaan kasar].

Religion and Hate
Sudah sama-sama beragama yang sama, yang paling benar dan afdol lagi, namun tetap saja berkapasitas untuk penghayatan iman yang bolong-bolong.

Yang satu tidak menjunjung nilai kejujuran, lainnya tidak menjunjung nilai kemurnian, lainnya lagi tidak memiliki nilai kerendahan hati, atau kemurahan hati. Justru karena itu tidak ada manusia yang dibenarkan untuk menghakimi orang lain karena sudah pasti dirinya sendiri bersifat bolong-nilai. Entah dalam hal atau nilai apa, yang mungkin ia sendiripun tidak menyadarinya.


Losing my religion

Maka dari itu debat agama adalah kerja omong kosong, menghabiskan waktu dan energi serta tidak produktif karena tidak menghasilkan perbaikan yang berarti pada karakter manusia yang terlibat. Substansi iman dan praksis iman adalah ibarat kedua sisi dari suatu mata uang logam tadi. Tidak perlu diperdebatkan sisi mana yang lebih penting karena keduanya harus eksis. Namun iman saja tanpa praksis iman bukan hanya kosong atau mati tetapi sekaligus merupakan kemalasan dan kejahatan spiritual.

Bisa saja agamanya sempurna tetapi praksisnya buruk, atau agamanya tidak se-ideal agama lain tetapi praksisnya lebih prima. Jadi yang lebih kuat berbicara ialah iman yang bagaimana dan bukan iman yang mana.(*)

Terrorism has no religion



Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s