jump to navigation

Berbicara Dengan Empati 05/10/2009

Posted by chillinaris in Renungan, Motivasi, & Pengembangan Diri, Story, Uncategorized.
Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,
trackback

Emphaty

Menghadapi seseorang dengan hati antipati, berbicara dibutuhkan kerendahan hati dan secara halus. Kalau tidak, justru bagaikan menabur garam pada luka, dapat memperdalam rasa antipatinya.

( Beacon, filsuf Inggris)

Pelaku komunikasi yang bijak, biasanya memiliki empati; menyerap sejuta masalah yang dikembangkan secara positif, akhirnya membuat lawan berbalik menjadi kawan. Misalkan, jaman dulu ahli potong rambut dalam melatih muridnya, secara umum membutuhkan 3 tahun lebih baru bisa “lulus”. Kini, seorang master potong rambut melatih seorang murid, setelah lewat 3 bulan, dianggap sudah menguasai ketrampilan tersebut, diperbolehkan secara resmi buka usaha.

hair-cut-salonPada suatu hari, seorang murid diuji coba ketrampilan perdananya, sesudah selesai memangkas pelanggan pertama, pelanggan tersebut sambil melihat ke cermin berkata: “Rambut masih agak panjang”. Si murid tak tahu harus menjawab bagaimana.

Gurunya yang mengamati di sebelahnya, langsung dengan tersenyum menjelaskan: “Rambut panjang, membuat Anda terlihat berisi, ini yang dinamakan Ilmu Padi, sangat sesuai dengan status Anda.” Sang pelanggan mendengar itu, dengan gembira pamit pada mereka.

Si murid sesudah memangkas rambut pelanggan kedua, pelanggan melihat ke cermin dan berkata: “Rambut dipotong terlalu pendek.” Si murid tetap saja tak tahu harus menjawab apa. Lalu guru itu menjelaskan dengan tertawa: “Rambut pendek, membuat anda terlihat bersemangat, sederhana, tulus, terkesan sangat akrab.” Mendengar itu pelanggan pergi dengan gembira.

Si murid sesudah mencukur pelanggan ke 3, pelanggan sembari membayar, sambil berkata dengan tertawa: “Perlu waktu cukur cukup lama ya.” Sang murid tak menjawab. Lalu guru tersebut menjelaskan dengan tertawa: “Untuk melayani seorang tokoh memang perlu waktu yang lebih lama, tak pernahkah anda mendengar: masuk bagai intelek berambut perak, keluar bagai cendekiawan berwajah rupawan?” Mendengar hal itu, sang pelanggan tertawa terbahak dan pergi.

Si murid sesudah membenahi rambut pelanggan ke 4, pelanggan tersebut sambil membayar, sambil tertawa berujar: “Gerakan anda cukup tangkas! 20 menit sudah selesai dibenahi.” Si murid bingung, terdiam membisu. Dengan cekatan si Guru tertawa dan berkata: “Jaman sekarang, time is money, dengan ketrampilan tangkas, gerak cepat selesai, telah menghemat waktu dan uang anda, bagaimana tidak merasa gembira?” Sang pelanggan mendengar itu, mengangguk dengan tersenyum dan pergi.

Setelah salon murid tersebut tutup, si murid bertanya dengan takut-takut: “Guru, mengapa yang Anda sampaikan, selalu beralasan?”

Si Guru menepuk-nepuk bahunya dan berkata dengan tertawa: “Tak salah lagi, setiap persoalan selalu mempunyai dua sisi, ada betul ada salah, ada untung ada rugi.” Saya sengaja menyemangatimu di depan pelanggan, ada dua efek: Bagi si pelanggan, adalah demi membuat orang lain senang, karena siapapun pasti senang mendengar kata-kata manis; bagi kamu, selain memberi semangat juga memecut, karena semua hal pada awalnya pasti sulit, saya mengharapkan kelak kamu mengerjakannya dengan lebih bagus!”

Mendengar hal itu si murid sangat terharu, sejak saat itu lebih giat lagi dalam belajar ketrampilan. Setelah lewat beberapa tahun, ketrampilan murid tersebut sudah sangat canggih, cukup untuk berwirausaha.

Dalam keseharian, kita biasanya mengerjakan sesuatu hal kecil yang teramat biasa, oleh karena cara pengungkapan yang tidak sama, hasil dan imbalan yang diterima juga akan jauh berbeda. Selain harus bisa mengerjakan, juga harus bisa berbicara.

Di dalam hal komunikasi antar manusia, kesalahan yang paling sering dilakukan ialah: setiap orang bersikukuh dengan pandangan diri sendiri, selalu saja menilai permasalahan berdasarkan pandangan diri sendiri. Berdasarkan pengalaman diri sendiri yang masih sempit untuk mengatasi permasalahan, pasti membuat dua pihak yang bermasalah saling beroposisi, berdebat tiada henti, tak akan mampu memperoleh hasil yang sempurna.

The Little Zen MonkDalam contoh kasus aliran Zen terdapat sebuah cerita kecil yang sangat digemari. Ada dua biksu cilik yang biasanya suka bercekcok. Suatu hari, kedua orang tersebut lagi-lagi ribut gara-gara urusan sepele, semakin berdebat semakin berteriak, akhirnya bertengkar mulut hingga mukanya merah padam, tidak ada satu pun yang mengalah.

Biksu cilik pertama dengan geram mencari sang guru untuk mengadu. Gurunya dengan sangat telaten mendengar keluh-kesahnya, lalu berkata dengan datar-datar saja: “Kamu benar.” Mendengar omongan sang guru, si biksu kecil pulang dengan hati puas.

Tak lama kemudian, biksu kecil kedua dengan terengah-engah mencari sang guru juga untuk mengadu. Guru juga dengan telaten mendengarkan penjelasannya, tetap saja berkata dengan datar: “Kamu benar.” Biksu cilik kedua juga dengan gembira kembali ke kamarnya.

Waktu itu, biksu cilik ketiga yang senantiasa mendampingi sebagai asisten tak bisa menahan lagi dan berkata: “Guru, Anda biasanya mengajarkan kami melayani orang harus jujur, jangan sekali-kali melakukan hal yang berlawanan dengan nurani, tetapi, saya tadi dengan telinga sendiri mendengar Anda terhadap dua adik seperguruan yang berbeda pendapat dan bertengkar mengatakan,”Kamu benar”. Maafkan atas kelancangan saya, Guru berkata demikian, bukankah itu semacam hal yang berlawanan dengan nurani?”

Si guru menghadapi kecurigaan biksu cilik ketiga, selain tidak marah, malahan berkata dengan tenang dan berseri: “Kamu benar.” Biksu cilik ke tiga menjadi murid sudah agak lama, juga agak mempunyai dasar kebijakan, mendengarkan gurunya berkata demikian, langsung terbuka pencerahannya, dengan segera bersujud berterima kasih atas pengarahan langsung dari sang guru.

Ternyata maksud dari guru tersebut ialah: oleh karena setiap orang selalu menganggap diri sendiri “Saya benar”, maka dari itu baru bisa bersikukuh dengan pendapatnya sendiri, sama sekali tidak mau mengalah.

Jikalau kita bisa membandingkan hati dengan hati, mau berdiri di atas pijakan posisi lawan bicara untuk memikirkan permasalahannya, membalikkan pandangan sendiri, dirubah dengan sikap “Kamu benar”, pertikaian pasti berkurang, gesekan antar mereka juga agak mudah diselesaikan.

Di dalam dunia usaha pada umumnya, bagian operasional dan bagian produksi acap kali terjadi beda pendapat lalu bertikai tak berkesudahan, atasan yang cerdik pasti bisa dengan tepat waktu menyelaraskan kedua bagian tersebut, dengan demikian, keadaan pasti bisa berubah baik.

Mengatasi perselisihan, hadapilah dengan hati empati, baru bisa membuat komunikasi semakin lancar!

Mini tips berkomunikasi

TalkSetiap orang terlahir dengan background berbeda, prinsip dan konsepnya tidak sama, sebelum mengenali secara mendalam tingkat kesulitan, situasi runyam dan keterbatasan seseorang, lantas dengan seenaknya memvonis lawan bicara, tentu tidak bijaksana. Memecahkan masalah dengan empati, setiap persoalan dilihat dari sisi positifnya, bisa mengubah lawan menjadi kawan dan memperluas pergaulan.

Seringkali mendengar kawan yang sudah menjadi orang tua berkata: “Saya dahulu bisa naik bus umum berangkat sekolah, mengapa anak saya tak bisa, harus dijemput oleh orang tua?” Juga acap kali mendengar kawan yang menjadi general manager berkata: “Dahulu ketika saya masih seorang pegawai kecil, setiap hari selalu bisa bekerja 8 jam, demi mengejar jadwal pengiriman, juga mau lembur hingga subuh.” Oleh karena saya punya rasa tanggung jawab, barulah diangkat sebagai general manager. Kenapa semua karyawan jaman sekarang tak bisa melakukannya?”

Sejujurnya, dengan mudahnya memproyeksikan “keunggulan” kita kepada orang lain, adalah tidak benar. Ini dinamakan memproyeksikan diri kepada orang lain, dengan kata lain selalu menganggap diri sendiri benar. Di dalam lingkup komunikasi, ini adalah sebuah pantangan besar!

Sering kali, putus dipertengahan atau gagalnya komunikasi, dikarenakan terlalu mempertahankan pemikiran diri sendiri. Dengan lain kata, kita hanya menghendaki orang lain untuk memahami, tapi tidakkah pernah berpikir, seharusnya juga harus belajar memahami orang lain.

Seorang Filsuf Afrika Selatan berkata: “Sebagai manager harus dilengkapi dengan karakter suka berkelompok, tindak tanduk yang menyendiri sungguh harus dicampakkan.”

Perihal berkomunikasi, semakin bisa menggunakan empati, semakin bisa secara luas menjalin jodoh kebajikan. Hendak menjadi orang yang piawai dalam berkomunikasi, membutuhkan ketrampilan berbicara yang bisa menyesuaikan setiap situasi dan kondisi.

Ada pepatah berbunyi: “Tiga orang jagal membahas daging, tiga orang intelek membahas buku.” Jikalau mau memahami lebih banyak tentang ciri khas setiap profesi dan kesukaan setiap tipe tokoh, maka akan lebih pandai menggunakan empati untuk melakukan komunikasi. Misalkan saja, ketika anda bersama dengan seorang penjagal, maka bahaslah daging; bersama dengan pemilik Bakery, anda bahaslah roti; ketika berbarengan dengan mereka berdua, bahaslah sandwich.

Ini adalah filsafat tertinggi dari komunikasi.

Dikutip dari Cara Sukses Berkomunikasi, penerbit Shang Zhou. (The Epoch Times/whs/02 Oktober 2009)

[Outro]

Komentar»

1. pargodungan - 05/10/2009

salam kenal.
postingan anda sangat menarik.🙂

2. angelin - 29/10/2009

kerenn !!

3. M. Kisworo - 11/01/2010

komentar techbostonworks.com sama seperti seperti angelin: keren!!

chillinaris - 12/01/2010

Thx thx thx.. 😉


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s